Hanya Blog Biasa

Tujuh Belas Bukan Angka Biasa

Jam dinding telah lewat tengah malam. Sepertinya mata ini belum mengantuk. Menengok sebentar dri balik jendela, sunyi tanpa ada suara. Hanya jangkrik dan binatang malam yang masih bernyanyi. Sesekali suara cicak berbunyi didinding tembok.

Benar-benar terasa sunyi. Sunyi yang terasa damai sekali.

64 tahun yang lalu, sunyi ini mungkin tak seindah sekarang. Yang terbayang dibenakku adalah sunyi yang begitu mencekam, menakutkan, dan penuh kesiagaan.

Bagaimana tidak tegang ? 2 hari sebelum tanggal 17 agustus 1945, tepatnya ketika para sekelompok pemuda berkumpul di rumah Bung Karno dan memaksa untuk membacakan pengumuman proklamasi ini sembari mengancam bahwa jika tidak malam itu juga diumumkan proklamasi, mereka akan melakukan pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran keesokan harinya.

Namun, dengan lantangnya Bung Karno menjawab, Ini batang leherku, seretlah saya ke  pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”

Dan bahkan keesokkan harinya, tanggal 16 Agustus 1945, sekelompok pemuda itu membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok dan masih memperdebatkan hal yang sama.

Terbayang dibenak saya, bagaimana suasana ketegangan itu berlangsung, hingga Bung Karno memberikan penjelasannya tentang angka 17.

” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat”, ujar Soekarno menjelaskan keinginannya memilih tanggal itu.

“Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17 “.

” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?”, tanya Sukarni.

“Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. (Lasmidjah Hardi (1984:61))

Sebagai pemuda yang lahir dijaman kemerdekaan ini, mungkin tidak pernah terpikirkan hingga begitu detailnya, matang dan penuh pertimbangan untuk memilih sebuah angka.

Setelah mencari di Wikipedia , ternyata tanggal 17 Agustus 1945 tahun Masehi itu , juga bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, atau 17 Ramadan 1365 Tahun Hijriah menurut tahun Islam…Subhannallah

Begitu syakralnya sebuah angka. Dan bukankah Tuhan pun menyukai menggunakan angka-angka ganjil ?

Sesekali aku menengok jam dinding. “Hampir pagi”, pikirku

“Begitu berkahnya tanggal kemerdekaan kami, Tuhan “, selintas doa terbesit di benakku.

Dan itu pun aku ketahui ketika aku membaca-baca kembali beberapa tulisan sejarah di beberapa blog yang aku temui.

Tahun ini, 2009, merupakan angka ganjil yang penuh dengan ujian. Berkali-kali negara ini diterpa ujian. Tak perlu aku sebutkan satu per satu. Kita semua bisa melihat, membaca, mendengarkan, atau bahkan mengalaminya.

Sungguh menyedihkan.

“Terima kasih, Tuhan. Ujian ini menandakan betapa besarnya cinta-Mu pada kami”, sebaris doa terucap. ‘Semoga kemerderkaan kali ini memberi kami kekuatan untuk kembali meluruskan shaf kami, mengukuhkan ikatan keluarga kami, bersatu dalam perbedaan dan membangun negara ini dari hal terkecil yang kami mampu”.

“Kami yakin, bukan kemampuan yang Engkau inginkan dari kami. Tapi kemauan dan kerja keras kami untuk tetap membangun negeri ini menjadi lebih baik dan lebih lagi”.

“Kami yakin, Engkau tak pernah biarkan kami berlari tanpa arah”.

Demikian sebaris doa yang aku ingat pada acara tirakatan di kampung ku, tadi sebelum aku menuliskan cerita ini.

Dan sepertinya, sejarah ini akan terulang kembali. Walaupun tidak seperti apa yang sejarah tuliskan, setidaknya 5 hari kemudian telah memasuki Bulan Suci Ramadhan, bulan penuh berkah, bulan ampunan, bulan teristimewa dari bulan-bulan lainnya.

Selamat Hari Kemerdekaan, We Love You Full, Indonesia


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Agustus 17th, 2009 at 01:36




3 Responses to “Tujuh Belas Bukan Angka Biasa”

  1.    kalasenja Says:

    alur tulisan bagus, enak tuk dibaca. suasana yang digambarkan juga dapat aku rasakan.

    tapi….(heheheee, hanya opini lho ya…), INDONESIA merdeka bukan karena sebuah angka, walapun 17 bukan angka biasa tapi tidak akan membawa kebaikan apapun kalau kita hanya diam mengagumi angka pilihan bung karno tersebut. kita harus berbuat sesuatu yang NYATA untuk bangsa ini. MERDEKA..!!!

    salam,
    kalasenja

  2.    rusli zainal sang visioner Says:

    17 penuh dengan makna

  3.    mucill Says:

    Saya setuju dengan bung kalasenja.
    Mungkin 17 hanyalah sebuah angka. Ibarat pepatah, apalah arti sebuah angka, hehe…

    Hanya sekedar pemikiran pribadi ya…yang saya kagumi, bagaimana seorang Soekarno berpikir sedemikian detailnya hingga sebuah angka yang merupakan awal tonggak sejarah ini lahir, pun beliau pikirkan. Bahkan dalam kondisi tertekan saat itu.

Leave a Reply